Pages

SAMBIL MENCARI REJEKI

POKOK PERKULIAHAN

Sabtu, 21 Januari 2012

Bahan Ajar (Bahan Instruksional) Sejarah Gereja Umum I

Materi Kuliah Sejarah Gereja Umum I (Gereja Mula-mula sampai pada Gereja Abad Pertengahan) dalam weblog/blog ini dirancang berdasarkan Tujuan Instruksional (standar kompotensi) yang hendak dicapai atau diwujudkan oleh mahasiswa semester II STT Arrabona pada periode Januari - Juni 2012. Tujuan Instruksional dari Mata Kuliah ini tidak lain adalah tujuan yang hendak dicapai oleh mahasiswa pada akhir mengikuti mata kuliah, atau tujuan ini sering disebut dengan tujuan mata kuliah (tujuan instruksional umum pembelajaran = Standar Kompetensi)
Melalui Weblog/blog yang berbasis pada blogspot,wordpress, dll saya ingin menjadikan sebagai media instruksional pembelajaran untuk seluruh mata kuliah yang dipercayakan kepada saya, pada kesempatan ini Mata Kuliah yang dipercayan STT Arrabona adalah Sejarah Gereja Umum I, maka saya oleh kemurahan TUHAN, ingin mendisain media instruksional berbasis weblog/blog yang berbasis pada free weblog/blog seperti Blogspot (www.blogger.com), wordpress (www.wordpress.com), multiply dan lain-lain. Untuk sementara saya memanfaatkan blogspot (www.blogger.com) dan wordpress (www.wordpress.com).
Terimakasih untuk penemu blospot dan wordpress, selain itu untuk pemerintah Indonesia yang telah mengijinkan adanya fasilitas internet di Indonesia, salah satunya adalah blog yang saya pakai. Selain itu rekan-rekan anak bangsa yang membaktikan dirinya di dunia IT, hasil logi teman-teman di Informasi Tehnologi telah menjadi berkat bagi banyak orang. Terimakasih untuk Bapak tersayang: Pdt. Dr. Kembong Mallisa, D.D., D.B.S. yang telah memberi motivasi menulis sejak mahasiswa maupun setelah menjadi staf dosen di STTIA. Kini saya masuk dalam pokok Sejarah Gereja Umum I (untuk rumusan standar kompetensi, silakan lihat di Kontarak Perkuliahan dan Silabus SGU I).

PENDAHULUAN

Studi Sejarah Gereja secara akademis dalam Perguruan Tinggi Teologi di Indonesia, biasanya dibagi dalam beberapa bagian yakni : (1) Sejarah Gereja Umum I, (2) Sejarah Gereja Umum II, (3) Sejarah Gereja Asia dan (4) Sejarah Gereja Indonesia.
Pembagian materi kuliah Sejarah Gereja seperti dipaparkan di atas memang telah diatur dalam kurikulum Standar Nasional yang dikeluarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia cq Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Kristen Protestan untuk diberlakukan dalam setiap Perguruan Tinggi yang bernaung di bawah Dirjen Bimas Kristen Protestan Republik Indonesia.
Walaupun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa mata kuliah ini adalah mata kuliah yang tidak banyak disukai oleh mahasiswa. Para mahasiswa lebih senang mengikuti mata kuliah kelompok Biblika, Sistematika Teologi, Misiologi dan mata kuliah praktika atau mata kuliah non-Sejarah Gereja. Kesenangan ini sebenarnya tidak beralasan karena setiap materi kuliah yang disajikan dalam kurikulum Perguruan Tinggi Tologi sebenarnya mempunyai sejarah, misalnya mata kuliah Sistematika Teologi atau Dogmatika mempunyai sejarahnya yaitu sejarah Teologi Sistematika, artinya tidak ada mata kuliah yang tidak lepas dari unsur sejarah.
Kendatipun demikian, animo mahasiswa yang berkurang terhadap mata kuliah Sejarah Gereja dapat dipahami karena adanya stigmatisasi yang keliru yaitu belajar Sejarah Gereja tidak lain belajar menghapal data-data sejarah yang terlampau banyak. Memang belajar Sejarah Gereja tidak dapat dilepaskan dari menghafal, tetapi menghafal tidak akan ada artinya jika tidak dibarengi dengan usaha untuk mengetahui atau usaha menghafal disertai mengetahui atau berusaha mengetahui makna dari apa yang dihafalnya. Ini berarti bahwa pendekatan dalam pembelajaran Sejarah Gereja tidak dimutlakkan untuk menghafal, tetapi yang lebih diutamakan adalah maknanya.
Bila pendekatan pembelajaran Sejarah Gereja lebih diarahkan pada usaha mencari makna dari Sejarah Gereja maka animo belajar Sejarah Gereja akan bertambah. Apa yang saya kemukakan ini bukan hanya sebuah teori, melainkan telah menjadi pengalaman selama mengajarkan mata kuliah Sejarah Gereja di SETIA dan STT Bethel The Way (menjadi asisten Pdt. Dr. Matheus Mangentang, M.Th. dan menjadi dosen Sejarah Gereja di STT Bethel The Way). Ketika saya menekankan tentang makna belajar Sejarah Gereja, mahasiswa menjadi antusias. Misalnya yang saya jumpai dalam interaksi mahasiswa STT Bethel The Way kelas malam dan regular pada periode kuliah Januari s/d Mei 2006. Saya terkesan dengan interaksi mahasiswa STTB untuk mata kuliah Sejarah Gereja. Dengan demikian, alasan-alasan negative yang mempengaruhi warga pembelajar (mahasiswa atau pecinta sejarah) seperti : belajar Sejarah Gereja adalah belajar menghafal, belajar Sejarah Gereja dianggap membuang waktu untuk memperhatikan masa lampau, sebaiknya waktu sekarang dipakai untuk memikirkan apa yang sedang dan akan dihadapi daripada membicarakan hal-hal yang sudah lampau, dan alasan lain yang secara beragam dikemukakan oleh mahasiswa terhadap pembelajaran Sejarah Gereja dapat dihindari, dengan kata lain pendekatan makna dalam pembelajaran Sejarah Gereja akan meningkatkan keinginan mahasiswa untuk belajar Sejarah Gereja karena dengan pendekatan seperti itu, maka mahasiswa memperoleh manfaat belajar Sejarah Gereja bagi dirinya dalam pelayanan yang sedang dan akan dilakukan.
Jadi apa yang dikemukakan terakhir di atas kiranya menjadi perhatian mahasiswa STTB Program Koresponden. Pelajaran Sejarah Gereja ini akan menjadi sesuatu yang membakar semangat, memotivasi, memberi peneguhan ulang bagi kita dalam pergumulan pelayanan kita di Indonesia bila “kika melihat Sejarah Gereja dalam rangka memahami karya TUHAN dalam diri orang-orang percaya dan bagaimana respons mereka terhadap panggilan Allah kepada Gereja-Nya pada masa lampau di luar Indonesia” (Muanley, 2001:3). Dalam kaitan itu, maka setiap belajar materi Sejarah Gereja kita harus bertanya : Apa, Mengapa dan Bagaimana. Dr. Anne Ruck, salah seorang pakar Sejarah Gereja menyatakan, “Inti belajar Sejarah Gereja bukan menghafal nama dan tahun melainkan betanya, Siapa yang menabur benih, siapa yang menyiramnya, mengapa orang Kristen pada masa lampau rela mempertaruhkan nyawanya karena kepercayaan kepada Kristus? Apa motivasi memberitakan Injil? Dan masih banyak pertanyaan yang dapat kita kembangkan ketika sedang belajar sejarah.”
Apa yang kami dikemukakan di atas kiranya dapat menolong para mahasiswa program koresponden untuk bersemangat dalam belajar Sejarah Gereja Umum. Materinya meliputi Sejarah Gereja Mula-mula sampai Sejarah Gereja Abad Pertengahan atau Gereja pada Abad Kegelapan.
Akhirnya harapan dan doa kami kiranya mahasiswa dapat mengadakan studi Sejarah Gereja dengan terfokus kepada inti belajar Sejarah Gereja yaitu belajar bertanya. Selamat bertanya pada Sejarah Gereja dan selamat menikmati kekayaan dari belajar Sejarah Gereja untuk diri sendiri dan juga untuk jemaat atau dalam pelayanan.

Penyusun
Pdt. Yonas Muanley, M.Th.

BAB 1
ARTI, MAKNA, PERIODISASI SEJARAH GEREJA UMUM

1.1.Arti Sejarah Gereja

Arti Sejarah Gereja yang dimaksud di sini lebih kepada usaha memberi definisi terhadap Sejarah Gereja. Dalam usaha merumuskan definisi untuk Sejarah Gereja kita akan berusaha melihat arti dari dua kata tersebut yaitu kata Sejarah dan Gereja.

Arti kata Sejarah.

Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi dua arti tentang Sejarah.
1. Sejarah adalah kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau (kejadian dan peristiwa, fakta dan kenyataan dari masa lampau).
2. Sejarah adalah pengetahuan atau uraian mengenai peristiwa-peristiwa dan kejadian yang benar-benar terjadi di masa yang lampau (Sejarah = Ilmu Sejarah / pengetahuan atau uraian mengenai fakta tersebut).
Ini berarti bahwa belajar sejarah tidak lain berurusan dengan fakta masa lampau dan usaha untuk menguraikan fakta tersebut. Dengan kata lain sejarah dapat diartikan pada peristiwa-kejadian itu sendiri dan uraian tentang peristiwa tersebut.

Arti kata Gereja.

Beberapa teolog mendefinisikan arti kata Gereja sebagai berikut: (1) Kata Gereja berasal dari kata dalam bahasa Portugis “igreja”, yang berasal dari kata Yunani “ekklesia” yang berarti: mereka yang dipanggil. Mereka yang pertama dipanggil oleh Yesus Kristus ialah para murid dan sesudah kenaikan Tuhan Yesus ke surga dan turunnya Roh Kudus pada hari pentakosta, para murid itu menjadi “rasul”, artinya “mereka yang diutus” untuk memberitakan Injil sehingga lahirlah Gereja (van den End, 1992:1-2). (2) Istilah Yunani “ekklesia” dibentuk dari kata ‘ek’ (=dari) dan ‘kaleo’ (=memanggil), yaitu ‘mereka yang dipanggil keluar’. Dalam Perjanjian Baru istilah ‘ekklesia’ diapakai 115 kali, 10 kali dalam arti Gereja secara menyeluruh (misalnya Mat. 16:18) dan selebihnya dalam arti “Gereja lokal” atau “jemaat setempat” (misalnya Mat. 18:17). Jadi kata ‘ekklesia’ dalam Perjanjian Baru mempunyai arti (1) Ekklesia adalah kaum yang dipanggil keluar dari kehidupan yang lama dan keluar dari kuasa Iblis, dipanggil Allah sendiri, dipindahkan ke dalam kerajaan Allah-terjadi perubahan status dan pola hidup. (2) Ekklesia adalah kaum yang dipanggil keluar dari hidup bagi diri sendiri dan dipanggil untuk hidup bagi Tuhan, beribadah kepada Tuhan dan melayani Tuhan-perubahan tujuan hidup dan pandangan dasar (Dietrich Kuhl, 1992:34).
Menurut Henry C. Thiessen, ayat-ayat dalam PB yang memakai kata ‘ekklesia’: 1 Kor. 12:13; 1 Ptr. 1:3, 22-25; Mat. 16:18; 1 Kor. 15:9; Gal. 1:13; Flp. 3:6; Ef. 5:25-27; Ef. 1:22, 5:23; Kol. 1:18; 1 Kor. 12:28; Ef. 3:10; Ibr. 12:23, yang berarti sekelompok orang yang terpanggil, sebagai suatu majelis warga negara dari suatu negara yang mandiri, namun PB memberi arti rohani dari kata ekklesia yaitu sekelompok orang yang dipanggil keluar dari dunia dan dari hal-hal yang berdosa (Thiessen, 1995:476).
Dari kajian tentang Gereja dan sejarahnya maka perlu diinsafi hal berikut ini: Gereja ada karena Yesus memanggil orang menjadi pengikut-Nya. Maka Gereja mempunyai wujud yaitu persekutuan dengan Kristus dan persekutuan dengan manusia lain dan persekutuan dalam melaksankana amanat-Nya yaitu pekabaran Injil (Mat. 28:19, Kis. 1:8) (H. Berkhof dan I. H. Enklaar, 2004:vii).
Berdasarkan definisi atas dua kata, sejarah dan Gereja seperti tersebut di atas maka berikut ini akan dirumuskan pengertian dari kata “Sejarah Gereja”.
Ternyata pengertian tentang Sejarah Gereja, yaitu uraian empiris dan penilaian teologis. Dengan kata lain kajian teoritis-teologis dari para teolog tidak sama dalam pemberian definisi. Artinya ada banyak definisi tentang Sejarah Gereja. Keragaman definisi ini disebagkan karena filosifi daripara ahli tersebut. Dengan kata lain filosofi para ahli mempengaruhi rumusannya tentang Sejarah Gereja. Ada yang merumuskan pengertian Gereja berdasarkan uraian empiris dan ada pula dengan penilaian teologis. Ini perlu dikemukakan supaya para mahasiswa tidak bingung melihat keanekaragaman definisi tersebut. Akan tetapi, dari keanekaragaman definisi tersebut dipilih, dipertimbangan, kemudian dirumuskan suatu definisi konseptual dan operasional dari pengertian Sejarah Gereja yang kemudian memberi arah dalam kerangka studi Sejarah Gereja yang akan kita lakukan.

Definisi dari para ahli tentang Sejarah Gereja dipaparkan sbb:
a)Sejarah Gereja adalah sejarah agama Kristen
b)Sejarah Gereja adalah sejarah perhimpunan-perhimpunan yang mengakui Yesus Kristus
c)Sejarah Gereja adalah sejarah Gereja Yesus Kristus
d)Sejarah Gereja adalah sejarah tafsir Alkitab: karena tafsiran muncul gereja-gereja
e)Sejarah Gereja adalah kisah tentang perkembangan-perkembangan dan perubahan-perubahan yang dialami Gereja, sebagai persekutuan meraka yang dipanggil Kristus, selama di dunia ini
f)Sejarah Gereja adalah pertanggungjawaban masa silam Gereja yang terjadi dalam terang Injil Yesus Kristus
g)Sejarah Gereja adalah kisah tentang perubahan hidup yang dialami manusia karena keselamatan yang diimaninya di dalam Yesus Kristus dan bagaimana mewujudnyatakan keselamatan tersebut sebagaimana yang diajarkan Alkitab.
Jadi definisi Sejarah Gereja yang mempertimbangkan aspek empiris dan penilaian teologis adalah sbb:

Sejarah Gereja adalah pertanggungjawaban masa silam Gereja yang terjadi dalam terang Injil Yesus Kristus dan bagaimana hidup manusia dipengaruhi dan diubah oleh keselamatan yang diberikan Allah dalam Yesus Kristus kepadanya (uraian kenyataan/empiris/fakta) dan apakah perwujudan keselamtan dalam kehidupan manusia yang digumuli Gereja, sebagai persekutuan orang yang mengakui Yesus Kristus, sesuai dengan Alkitab (penilaian Teologis).

1.2. Makna Belajar Sejarah Gereja

Makna yang dimaksud di sini adalah kegunaan, artinya apa kegunaan belajar (mengetahui) Sejarah Gereja.
Jadi makna (kegunaan) belajar Sejarah Gereja adalah:
a)Belajar Sejarah Gereja menolong saya untuk mengetahui karya Allah pada masa lampau
b)Belajar Sejarah Gereja menolong saya untuk mengetahui respons orang-orang percaya pada masa lampau
c)Belajar Sejarah Gereja menolong saya untuk memahami Perjanjian Baru
d)Belajar Sejarah Gereja menolong saya untuk mengetahui keberanian orang Kristen pada masa lampau dalam menghadapi penganiayaan (tantangan)
e)Belajar Sejarah Gereja menolong saya untuk memahami pergumulan Gereja dalam perjumpaannya dengan pemerintah
f)Belajar Sejarah Gereja menolong saya untuk memahami bahwa tidak selamanya Tuhan membiarkan umat-Nya menghadapi penganiayaan, tetapi memberi juga masa kelegaan (pembebasan) dari penderitaan
g)Belajar Sejarah Gereja menolong saya memahami bahwa saya harus bersedia mengikuti Tuhan dalam masa susah dan senang
h)Belajar Sejarah Gereja menolong saya untuk tidak memutlakkan pemikiran teologis Gereja kita sendiri
i)Belajar Sejarah Gereja menolong kita untuk tidak mengulangi kesalahan masa lampau
j)dst (masih terlalu banyak makan dari belajar Sejarah Gereja)

1.3. Periodisasi Sejarah Gereja Umum

Periodisasi adalah usaha menetapkan tahun-tahun, peristiwa-peristiwa, tokoh-tokoh yang berhubungan dengan Sejarah Gereja (Sejarah Gereja Umum I). Periodisasi Sejarah Gereja Umum dapat dibuat sbb:
a)Zaman Gereja Mula-mula 30-590
1)Zaman Gereja menghadapi penganiayaan 30-313
2)Zaman Gereja bebas dari penganiayaan 313-590
•Zaman toleransi (agama toleransi) Th. 313
•Zaman Agama Negara, Thn. 380
b)Zaman Gereja Abad Pertengahan 590-1492/1500
1)Awal abad pertengahan
2)Abad pertengahan yang jaya
3)Akhir abad pertengahan

BAB 2
SEJARAH GEREJA MULA-MULA (30-590)
2.1. Konteks Gereja Lahir dan Berkembang
2.1.1. Konteks Yahudi di mana Gereja lahir dan berkembang

Konteks bangsa Yahudi sebelum Gereja lahir, yaitu Gereja lahir dan berkembang (bertumbuh) di Asia Barat. Asia Barat pada waktu itu dijajah oleh dua negara besar yaitu Kekaisaran Romawi dan Partia (sesudah thn 225 M berubah menjadi Persia, sekarang Irak-Iran).
Wilayah kekuasaan Romawi di Asia Barat meliputi: daerah-daerah di sekitar Laut Tengah, di samping Mesir dan Afrika bagian utara, sedangkan wilayah kekuasaan Partia/Persia meliputi wilayah Irak dan Iran. Oleh karena Asia Barat, khususnya daerah Palestina dikuasai oleh kekaisaran Romawi maka pembahasan Gereja mula-mula yang lahir di Yerusalem dan berkembang ke arah Barat akan dibahas dalma materi Sejarah Gereja Umum. Sementara Gereja yang berkembang ke wilayah Persia akan dibahas dalam Sejarah Gereja Asia.
Dengan demikian, pembahasan kita akan difokuskan pada Gereja mula-mula yang lahir dan berkembang dalam lingkup kekuasaan romawi. Konteks yang dimaksud adalah konteks Yahudi dan Hellenisme.

Beberapa konteks Yahudi sebelum Gereja lahir di Yerusalem dan berkembang dalam wilayah kekaisaran Romawi.
a.Orang Yahudi tersebar di penjuru bumi: di wilayah kekuasaan Romawi: Mesir, Afrika, Roma dan di wilayah kekuasaan Persia/ Partia (karena pembuangan: sisa-sisa orang Yahudi yang tidak pulang bersama Zerubabel/Ezra untuk membangun Bait Allah, Ezra 7:6-7). Orang Yahudi yang tinggal di Palestina 1 juta, yang tinggal di luar wilayah Palestina, misalnya di Roma lebih kurang 10.000, di Alexandria 1/3 dari jumlah penduduk.
b.Orang Yahudi mempunyai tempat ibadah (Bait Allah) di Yerusalem
c.Orang-orang Yehudi di Perantauan mempunyai tempat ibadah: Sinagoge, pada hari sabtu orang Yahudi berkumpul di Sinagoge untuk mendengarkan pembacaan Taurat dan homilianya (penjelasannya) bnd. Luk. 4:16. Setiap laki-laki Yahudi berhak memimpin kebaktian di Sinagoge, mula-mula juga seorang Yahudi yang telah menjadi pengikut Kristus (Kristen), seperti Paulus (Kis. 13:15)
d.Orang Yahudi sedang menantikan kehadiran seorang Mesias (penyelamat) sesuai Kitab Suci (PL) yang mereka miliki
e.Orang Yahudi mempunyai sikap moralisme: ketaatan pada hukum Taurat sebagai syarat untuk berkenan/selamat kepada Tuhan, sehingga kadang Taurat merupakan kuk yang berat bagi orang Yahudi (Mat. 23:4, 11:30)
f.Orang Yahudi terkenal dengan Syema/pengakuan iman: Allah itu Esa (Monoteisme)
g.Wilayah atau tanah kelahiran orang Yahudi sedang dijajah oleh bangsa Romawi, sering orang-orang Yahudi berusaha membebaskan diri dari jajahan Romawi tetapi gerakannya selalu ditumpas oleh prajurit Romawi (bagi mereka yang berminat baca kitab Deuterokanonika/kitab Apokripa yang dimiliki oleh orang Katolik, dapat juga di Introduksi PB oleh Ola Tuluan)
h.Orang-orang Yahudi di tempat perantauan, yaitu di luar Palestina seperti di Roma dan beberapa tempat di wilayah kekaisaran Romawi dan juga di luar wilayah jajahan Romawi seperti Partia biasanya pada hari-hari raya Yahudi bersiarah ke Yerusalem untuk merayakannya
i.Orang Yahudi telah memiliki Kitab Suci yang dapat memberi rujukan tentang Kristus dan pengikut-Nya (Mat. 1-2 dan teks lain dalam PB)

Abad Pertama Sejarah (Lahirnya Gereja mula-mula di Yerusalem menurut Kisah Para Rasul 1:1-10)

Gereja ada oleh sebab Tuhan Yesus memanggil orang menjadi pengikut-Nya. Mereka dipanggil dalam persekutuan dengan Dia, yaitu Gereja. Jadi wujud Gereja ialah Persekutuan dengan Kristus yang juga mempengaruhi persekutuan dengan manusia lain dan wujud yang kedua dari Gereja ialah persekutuan dalam melaksanakan amanat Tuhan Yesus Kristus yaitu pemberitaan Injil (Berkhof dan Enklaar, 2004:vii).
Orang-orang yang pertama dipanggil oleh Tuhan Yesus Kristus adalah para Rasul (Simon petrus, Andreas, dst + Paulus). Sesudah Yesus naik ke Surga dan mengutus Roh Kudus (pencurahan Roh Kudus) pada hari Pentakosta, para murid itu menjadi “rasul”, artinya “mereka yang diutus” untuk memberitakan Injil sehingga lahirlah Gereja Kristen. Rasul Petrus melakukan tugas pemberitaan Injil ini secra baik pada saat murid-murid dipenuhi Roh Kudus, Petrus berkhotbah di Yerusalem dan 3.000 orang bertobat dan percaya kepada TuhanYesus Kristus (bnd. Kis. 2). Peristiwa ini oleh para pakar Sejarah Gereja dilihat sebagai awal membicarakan tentang sejarah Gereja mula-mula adalah Kisah Para Rasul. Selanjutnya Kitab ini disebut Kitab Sejarah Gereja mula-mula.
Dalam Kitab Kisah Para Rasul, kita dapat mengikuti cerita (kesaksian) tentang orang-orang yang dipanggil menjadi pengikut Kristus (Gereja) melalui khotbah Para Rasul seperti:
Sejarah Gereja mula-mula di Yerusalem menurut Kitab Kisah Para Rasul:
•Kis. 2:14-41 khususnya ay. 41: Mereka yang bertobat 3.000 orang (jemaat Kristen I di Yerusalem).
•Kis. 2:41-47 = pertambahan Jemaat mula-mula di Yerusalem karena bertekun dalam pengajaran rasul-rasul, dalam persekutuan, memecahkan roti (perhatian sosial satu dengan yang lainnya), dan doa serta memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. Jadi pertambahan anggota jemaat karena Tuhan melalui orang-orang yang telah percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Artinya mereka yang tidak percaya melihat perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri orang-orang yang telah percaya kepada Yesus Kristus.
•Kis. 4:4 = Pertambahan jemaat mula-mula di Yerusalem menjadi 5.000 orang. Artinya melalui pengajaran (khotbah) Petrus dan Yohanes (Kis. 4:1) maka di antara orang yang mendengar ajaran Petrus dan Yohanes menjadi bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus.
•Kis. 5:14 = Pertambahan jemaat mula-mula di Yerusalem: makin lama makin bertambahlah jumlah orang yang percaya kepada Tuhan, baik laki-laki maupun perempuan.
•Kis. 8:4-13 = Dimulainya jemaat Kristen pertama di Samaria melalui pemberitaan Injil oleh Filipus: orang banyak yang mendengar pemberitaan Filipus dan tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakan itu. Selanjutnya para rasul mengutus Petrus dan Yohanes ke Samaria dan mereka berdoa di sana supaya orang Samaria beroleh Roh Kudus, karena mereka baru dibaptis dalam nama Tuhan Yesus.
•Kis. 8:26-40 = Narasi tentang orang non-Yahudi (Etiopia) yang diinjili Filipus dan dibaptis
•Kis. 9:32-43 = Jemaat pertama atau penduduk di Lida, Saron, dan Yope yang percaya kepada Tuhan karena pelayanan Petrus.
•Kis. 10:1-48 = Jemaat pertama non-Yahudi (yang tidak bersunat) di Kaisarea yaitu Kornelius dan orang-orang di Kaisarea yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus melalui pelayanan Petrus dan dibaptis dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Berdasarkan paparan di atas, kita memahami bahwa lahirnya jemaat Gereja mula-mula di Yerusalem dan beberapa daerah di sekitar daerah Palestina adalah hasil karya Roh Kudus melalui Rasul Petrus, Rasul Yohanes, Filipus dan beberapa rasul yang lain, sedangkan Rasul Paulus dan Barnabas diutus oleh jemaat Antiokhia ke bangsa-bangsa lain dan bangsa Yahudi di perantauan yaitu di wilayah Romawi (dibahas secara khusus dalam konteks hellenisme).
Jadi dapat dipahami bahwa mayoritas anggota jemaat (Gereja) mula-mula di Yerusalem adalah orang Yahudi dan berperan cukup besar s.d. tahun 70 Masehi sebelum Bait Allah di Yerusalem dihancurkan oleh Jenderal Titus dan pemisahan hubungan orang Kristen-Yahudi dengan Orang Yahudi yang beragama Yahudi. Dan sejak tahun 70 Agama Yahudi dan Kristen berpisah, sejak saat itu orang Kristen Yahudi tidak diperkenankan memakai tempat ibadah Yahudi seperti sinagoge.

2.1.2. Perkembangan Gereja dalam Konteks Hellenisme

Faktor-faktor pendukung perkembangan Gereja dalam dunia Hellenisme (pengaruh kebudayaan Yunani-Romawi)

1.Sentralisasi/pemusatan kekuasaan: penaklukan daerah lain menjadi bagian wilayah kekuasaan, seperti Alexander Agung (336-323 s.M) kerajaan Makedonia (Yunani) menguasai Yunani, Asia Kecil (Turki), Palestina, Syria, Persia, Mesir dan memasuki India. Kemudian kekaisaran Romawi berhasil menaklukkan wilayah yang dikuasai kerajaan Yunani. Pada waktu jajahan kebudayaan Yunani, telah mempengaruhi wilayah Asia Barat: Palestina, Asia, Syria (bhs Gereja tetap bahasa Siria/Aram), Asia Kecil dan Antiokhia yang nanti menjadi pusat PI menjangkau daerah-daerah kafir di wilayah Romawi dan Persia.
2.Kesatuan Kebudayaan: bahasa pergaulan/bahasa sehari-hari adalah bahasa Yunani. PB ditulis dalam bahasa Yunani Koine.
3.Perdagangan dan lalulintas dalam kekaisaran Romawi: memberi peluang kepada para rasul dan orang-orang Kristen memberitakan Injil ke berbagai wilayah dalam kekaisaran Romawi melalui jalan darat dan jalan laut.
4.Perdamaian dunia (Pax Romana = Damai yang dijamin oleh Roma): Ada jaminan keamanan bagi penduduk kekaisaran Romawi dengan jalan pemerintah Romawi mempersiapkan prajurit-prajurit untuk keamanan di Injil dalam wilayah kekaisaran Romawi. Bandingkan keamanan di Indonesia yang olehnya kita dapat hadir di kota mana saja di Indonesia dengan jaminan keamanan polisi, tentara, dst. Tantangan tetap ada, tetapi jaminan keamanan memberi peluang pekabaran Injil.
5.Agama Yahudi di perantauan sebagai pelindung agama Kristen: awal perkembangan Kristen dilihat sebagai sekte atau aliran, Yahudi, tetapi setelah gerakan pengikut Kristus semakin banyak maka terjadilah tekanan-tekanan dan penganiayaan-penganiayaan sampai pembedaan atau pemisahan orang Kristen dengan agama Yahudi pada tahun 70 Masehi.
6.Orang-orang yang takut akan Allah = orang kafir yang percaya kepada Allah dan suka berbakti di sinagoge, tetapi mereka tidak melaksanakan seluruh Hukum Taurat, dan belum bersunat (Kis. 13:16; 17:14, Kis. 10 dan 11). Kelompok ini dikemudian hari memberi kontribusi yang besar bagi jumlah anggota Gereja atau Kristen. Karena menjadi Kristen tidak harus sunat lahiriah, tetapi sunat batiniah. Mereka tertarik kepada Kristennya Rasul Paulus dari pada Petrus dkk.
7.Septuaginta: Terjemahan Taurat dalam PL dalam bahasa Yunani Koine untuk orang-orang Yahudi di Diaspora (perantauan): orang-orang Yahudi diaspora pada umumnya berbahasa Yunani Koine, sehingga mereka membutuhkan kitab suci dalam terjemahan Yunani Koine. Jadi Septuaginta menolong para pemberita Injil dalam dunia Hellenisme.
8.Filsafat: Plato, Stoa, Epikureanisme. Filsafat sering dipakai oleh bapak-bapak Gereja untuk menjelaskan iman Kristen kepada orang-orang cerdik pandai yang selalu menyerang iman Kristen dengan tuduhan-tuduhan yang tidak logis, salah satunya telah dilakukan oleh Agustinus dalam bukunya De Civitate Dey. Di sini, filsafat menjadi salah satu faktor pendukung dalam arti penggunaan filsafat untuk menerjemahkan konsep Kristen.

Sejarah Perkembangan Gereja Mula-mula dalam Dunia Hellenisme

Pusat Pekabaran Injil pada abad pertama untuk menjangkau wilayah-wilayah di luar palestina dalam Kekaisaran Romawi, yaitu Kota Antiokhia. Di Kota Antiokhia, khususnya jemaat yang berbahasa Yunani mengutus Paulus dan Barnabas ke Barat, yaitu ke wilayah Romawi, sedangkan yang berbahasa Aramik seperti Gereja Syria mengutus para misionari ke wilayah Timur (akan dibahas dalam SGA).
Informasi tentang perkembangan Gereja di Antiokhia ke arah Barat dapat kita selidiki dalam Kisah Para Rasul.
Kis. 10:1-48 : Menyaksikan jemaat pertama non-Yahudi (yang tidak bersunat) di Kaisarea yaitu Kornelius dan orang-orang di Kaisarea yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus melalui pelayanan Petrus dan dibaptis dalam nama Tuhan Yesus Kristus
Kis. 11:19-30 : Menyaksikan Sejarah Gereja jemaat mula-mula di Antiokhia yang terdiri atas orang-orang yang tidak bersunat/bangsa lain (bangsa non-Yahudi), ketika jemaat mula-mula di Yerusalem mendengar tentang pertobatan orang-orang non-Yahudi di Antiokhia maka mereka mengutus Barnabas ke Antiokhia, selanjutnya Barnabas mencari Paulus di Tarsus untuk dibawa ke Antiokhia (11:25). Mereka tinggal bersama jemaat dan mengajar jemaat di Antiokhia selama satu tahun lamanya.
Kis. 12:24-13; 28:1-30: Kisah pengutusan Paulus dan Barnabas oleh jemaat di Antiokhia untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di: Seleukia, Siprus (13:4), Salamis (13:5), Pafos (13:6) di sana seorang Gubernur bertobat (13:12), ke Perga, Pamfilia dan tiba di Antiokhia di Pisidia, pada hari Sabat, mereka (Paulus, Barnabas dan Yohanes) ke rumah ibadat (sinagoge) dan memberitakan Injil dalam rumah ibadat kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah (orang yang tertarik dengan agama Yahudi) (13:14-48).
Kis. 14:1: Kisah PI Paulus dan Barnabas di Ikonium di rumah ibadat Yahudi (sinagoge), mereka yang mendengar yaitu sebagian orang Yahudi dan orang Yunani percaya kepada Tuhan Yesus Kristus (14:1-2).
Kis. 14:21-28: Kisah perjalanan Paulus dan Barnabas kembali ke Antiokhia, dari perjalanan mereka ini kita dapat menarik kesimpulan bahwa pasti ada orang-orang yang mendengar Injil dan percaya kepada Kristus.
Kis. 15:1-34: Kisah pergumulan orang non-Yahudi yang menjadi Kristen tentang sunat sebagaimana yang diajarkan oleh orang Kristen Yahudi dari Yudea yang datang ke Antiokhia dan mengajar jemaat di sana bahwa jika mereka tidak disunat maka mereka tidak akan selamat (15:1) namun Paulus dan Barnabas melawan secara keras, yaitu orang non-Yahudi yang menjadi Kristen tidak perlu disunat, yang kemudian diselesaikan (dibicarakan) dengan para rasul dan penatua-penatua di Yerusalem (15:2b-34).
Kis. 16:4-12: Kisah Paulus dan Silas memberitakan Injil kepada orang-orang di Makedonia.
Kis. 16:13-40: Kisah pelayanan Paulus ketika berada di Filipi, mereka berusaha mencari tempat ibadat orang Yahudi (16:13) dan dalam rumah ibadat itu mereka berbicara kepada perempuan-perempuan dalam rumah ibadat itu, salah satunya Lidia dan seisi rumahnya dibaptis, selain itu kepala penjara di Filipi serta seisi rumahnya juga percaya kepada Yesus melalui pengajaran Paulus dan Silas.
Kis. 17:1-9: Kisah pelayanan Paulus dan Silas di Tesalonika. Paulus dan Silas masuk dalam rumah ibadat dan mengajar kepada mereka bagian-bagian kitab suci. Hasilnya beberapa orang Yahudi, sejumlah besar orang Yunani yang takut kepada Allah dan perempuan-perempuan terkemuka yang percaya kepada Yesus Kristus melalui pengajaran Paulus dan Silas.
Kis. 17:10-15: Kisah pelayanan Paulus dan Silas di Berea. Mereka masuk ke rumah ibadat (sinagoge) lalu mengajar, hasilnya banyak orang Yahudi yang mendengar pengajaran tersebut bertobat, perempuan-perempuan terkemuka di Berea serta laki-laki Yunani (17:12). Selanjutnya Silas dan Timotius tinggal di Berea tetapi Paulus melanjutkan ke.
Kis. 17:16-34: Kisah pelayanan Paulus di Atena. Paulus masuk ke rumah ibadat (sinagoge) dan bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah (orang-orang non-Yahudi yang tertarik dengan agama Yahudi), dan juga dengan orang-orang yang dijumpai di pasar, selain itu dengan beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa bersoal jawab dengan Paulus. Paulus memberitakan Injil tentang Yesus dan kebangkitan-Nya. Hasilnya beberapa laki-laki menjadi percaya, di antaranya juga Dionisius (anggota majelis Aeropagus), seorang perempuan bernama Damaris, dan orang lain yang bersama-sama mereka (17:33-34).
Kis. 18:1-16: Kisah pelayanan Paulus di Korintus. Pada setiap hari Sabat, Paulus masuk ke rumah ibadat Yahudi dan berusaha meyakinkan orang Yahudi dan orang-orang Yunani (18:4). Di sini Paulus dihina dan dihujat, setelah mengebaskan debu kaki, Paulus memutuskan dirinya untuk memberitakan Injil khusus kepadaorang-orang non-Yahudi, pergi kepada bangsa-bangsa lain (18:6). Hasil pelayanan Paulus di Korintus, yaitu Titius Yustus dan Krispus seorang kepala rumah ibadat serta seisi rumahnya dan banyak dari orang-orang Korintus yang mendengarkan pemberitaan Paulus menjadi percaya dan memberi diri untuk dibaptis (18:7-8).
Kis. 19:1-11: Kisah pelayanan Paulus di Efesus, termasuk berbicara di ruang kuliah Tiranus, dilakukan selama dua tahun sehingga semua penduduk Asia mendengar firman Tuhan, baik orang Yahudi maupun orang Yunani (19:9-10).
Kis. 28:30-31: Kisah tentang Paulus bersama orang-orang tahanan yang dibawa ke Roma dan di sana Paulus tinggal di rumah kontrakannya dan tinggal di sana selama dua tahun, selama itu Paulus menerima orang-orang yang datang kepadanya. Selanjutnya Paulus menulis surat kepada jemaat di Roma. Jemaat di Roma bukan merupakan hasil pelayanan Paulus, kemungkinan hasil pelayanan orang lain yang percaya kepada Kristus, tetapi karena Paulus sangat senang mendengar perilaku iman jemaat di Roma maka Paulus menulis surat kepada mereka untuk memberi nasihat pastoral kepada jemaat di Roma.
Selain itu dalam surat-surat yang terdapat dalam Perjanjian Baru dipaparkan tentang jemaat-jemaat mula-mula di berbagai wilayah Romawi seperti: jemaat di Roma, jemaat di Korintus, jemaat di Galatia, jemaat di Efesus, jemaat di Filipi, jemaat di Kolose, jemaat di Tesalonika, jemaat di beberapa tempat di wilayah Romawi yang tidak disebutkan di sini tetapi dapat muncul dalam suat-surat seperti 1, 2 Petrus, dst.
Jadi dapat disimpulkan bahwa jemaat Kristen (Gereja) yang berdiri pada zaman para rasul itu cukup banyak dan tersebar di wilayah Romawi.

2.1.3. Penghambatan (Penganiayaan) Gereja mula-mula dan Pengakuan Gereja Oleh Negara (30-590)

Penghambatan terhadap gereja dapat dibagi dalam dua bagian, yaitu penghambatan secara insidentil dan lokal dan penghambatan secara sistematis.

Penganiayaan Gereja secara insidentil dan lokal (30-250)

1.Penganiayaan Gereja oleh Kaisar Nero (37-68)
Menyuruh membakar Kota Roma dan mengkambing hitamkan orang Kristen = orang Kristen menjadi penyebab kebakaran tersebut
Melemparkan orang Kristen dalam koloseum lalu mengeluarkan singa, harimau untuk menerkam orang-orang Kristen
Orang Kristen dibungkus dengan kulit binatang lalu dikeringkan sehingga mati
Orang Kristen dibiarkan diterjang Banteng
Orang kisten dijadikan sebagai obor dengan cara disirami minyak lalu dibakar pada malam hari
Menurut tradisi, Paulus dan Petrus mati pada masa Nero, tahun 68 Masehi.

2.Penganiayaan Gereja oleh Kaisar Titus Flavius Domitianus Augustinus (51-96)
Menganiaya orang Kristen karena takut kerajaannya tersaingi dengan Kerajaan Kristus yang diberitakan oleh orang Yahudi Kristen
Membunuh istrinya yang dianggap Kristen
Membunuh keponakannya yang dianggap Kristen
Membunuh menantunya yang dianggap Kristen
Ketika hendak memasukkan rasul Yohanes ke dalam minyak yang mendidih terjadilah guntur dan halilintar, ia takut dan melepaskan Yohanes dan memenjarakan di Pulau Patmos.

3.Penganiayaan Gereja oleh Kaisar Markus Ulpius Trayanus (52-117)
Ia bersikap toleran terhadap agama-agama namun karena orang Kristen tidak mau menyembah gambar Kaisar sebagai Tuhan maka ia menghukum orang-orang Kristen.
Ignatius, uskup dari Antiokhia dan Simon dari Yerusalem mati martir di bawah pemerintahannya.

4.Penganiayaan Gereja oleh Kaisar markus Aurelius Antonius (121-180)
Sebenarnya ia tidak menentang orang Kristen, tetapi berhubung ada yang mengadu bahwa orang Kristen mendurhakai dewa Roma sehingga mendatangkan bencana alam maka sang kaisar memerintahkan untuk menangkap orang-orang Kristen yang terbukti kesalahannya
Polikarus, seorang uskup Smirna mati martir di bawah pemerintahan Markus Aurelius Antonius. Ketika sang kaisar berkata: “ingatlah umurmu”. Polikarpus menjawab, “Delapan puluh enam tahun aku mengabdi kepada Kristus, dan dalam sesuatu apapun Ia tidak berbuat salah padaku, bagaimana mungkin aku mengumpat/menyangkal Rajaku yang menyelamatkan aku? Selanjutnya baca Harta dalam Bejana hlm. 56

5.Penganiayaan Gereja oleh Kaisar Maximinus The Tharacianus (jadi kaisar 235-238)
Merusak rumah Gereja (mungkin yang dipakai beribadah)
Membunuh pemimpin Gereja
Memaksa orang menyembah berhala

Penganiayaan Gereja secara sistematis

1.Kaisar Decius Trayanus (201-251)
Pada tahun 250 ia mengadakan penganiayaan secara sistematis (besar-besaran) kepada orang-orang Kristen, yaitu:
Memerintahkan semua penduduk menyembah berhala
Yang melanggar dihukum penggal kepala
Orang Kristen disuruh berjalan di atas besi yang sedang membara
Orang Kristen disuruh duduk di atas kursi paku
Dll
Ia mati di medan perang pada tahun 251 dan bangkainya diberikan kepada burung gagak.

2.Kaisar Valerianus (193-269 M)
Pada tahun 258 ia mengumumkan:
Melarang kebaktian orang Kristen
Membunuh pemimpin Gereja
Menyita harta pejabat yang beragama Kristen
Barang siapa yang percaya kepada Kristus dibunuh
Dalam kalangan istana, siapa yang percaya hartanya disita
Dua tokoh terbunuh di bawah pemerintahan Valerianus: Ciatus dan Cyprianus seorang uskup Kartago, Afrika Utara.

3.Kaisar Dioklesionus (245-313)
Pada tahun 305 ia mengeluarkan 4 perintah:
Memusnahkan seluruh tempat ibadah orang Kristen
Memenjarakan semua pimpinan Gereja
Barangsiapa yang mau menyembah gambar raja di dalam penjara akan dilepaskan
Mengharuskan orang-orang Kristen dengan setia menyembah berhala (gambar), yang melanggar diancam hukuman mati.

Pengakuan Gereja oleh Negara (Kaisar) Romawi

Masa pengakuan Gereja oleh Negara terjadi melalui dua fase (tahap):

1.Edik Milano tahun 313: Oleh kaisar Konstantinus Agung. Isi edik Milano sering disebut edik Toleransi.
•Penganiayaan terhadap Gereja resmi dihentikan, semua kerugian yang diderita Gereja akan diganti oleh Negara dan pembiayaan Gereja dan para rohaniawan akan dibantu Negara
•Agama Kristen diakui sebagai “religio licita” di seluruh kekaisaran Romawi (salah satu agama di antara agama-agama yang dikenal di Roma)
•Hari Minggu ditetapkan dan dirayakan sebagai hari libur resmi (dampaknya berbengaruh sampai sekarang).

2.Kaisar Theodosius
Theodosius dalam masa pemerintahannya mengeluarkan suatu keputusan yang biasa di sebut edik Theodosius, yang isinya:
•Agama Kristen dijadikan sebagai satu-satunya agama Negara
•Gereja menjadi Gereja Negara
•Kaisar menjadi pelindung Gereja: mengurus dan bertangung jawab atas Gereja, Gereja bertugas memelihara moral warga negara dan membimbing mereka menuju keselamatan abadi
Sejak dikeluarkannya keputusan oleh Theodosius maka kuil-kuil agama kafir dihancurkan, orang-orang kafir diwajibkan masuk Kristen. Sejak saat itu masyarakat Eropa masuk dalam Corpus Christianum (masyarakat Kristen). Gereja dan Negara diatur oleh orang-orang Kristen. Jadi agama Kristen pernah dijadikan sebagai agama negara pada masa kaisar Theodosius.

3.Tantangan Gereja Mula-mula dari Dalam Kelompok ajaran sesat yang mengancam Gereja mula-mula dapat dijelaskan sbb:

a.Gnostik
Gnostik (campuran filsafat Yunani, khususnya Plato, unsur-unsur agama kafir, khususnya yang berasal dari Persia dan Mesir dan unsur-unsur iman Kristen. Gnostik muncul pada akhir abad I dan mencapai puncaknya pada pertengahan abad II. Kemungkinan asal Gnostik dicetuskan oleh Simon Magus. Gnostik bersal dari kata Yunani ‘gnosis’ yang berarti pengetahuan (hikmat) tertinggi yang bersifat rahasia dan yang membutuhkan suatu iluminasi khusus.
Ajaran-ajaran Gnostik: dua di antaranya sbb: (yang lain lihat Dietric Kuhl, 1:72-73)
a.Allah yang tertinggi dan yang adalah Roh itu, tidak mempunyai hubungan dengan dunia ini. Dunaia yang penuh penderitaan dan kejahatan tidak mungkin diciptakan oleh Allah yang Mahabaik, Mahakasih, Mahatahu. Allah adalah Terang dan Roh. Dunia penuh kegelapan. Dunia ini dijadikan oleh suatu ilah yang lain yang dinamakan demiurgos (tukang). Ilah inilah yang diberitakan oleh PL. jadi ilah ini lebih rendah daripada Allah atau disebut malaikat bawahan. Gnostik mempertentangkan Allah dalam PL dan PB.
b.Kristus diutus oleh Allah Yang Mahatinggi dan bukan oleh Allah Pencipta (Demiurgos). Kristus tidak menjelma, malainkan Ia memakai tubuh maya saja, sehingga pura-pura Ia mati di kayu salib (Doketisme).

b.Marcion
Ia adalah pendiri suatu bidat yang bersifat Gnostik. Ia adalah seorang pedagang kaya dari Laut Hitam (bagian Timur Laut Asia Kecil). Ayahnya seorang Uskup. Pada tahun 140 Marcion pindah ke Roma dan menjadi anggota Gereja di Roma. Di Roma ia dipengaruhi oleh Gnostik, ia dikucilkan dari jemaat di Romo, karena dianggap menganut ajaran sesat. Marcion kemudian mendirikan suatu Gereja dan berkembang dengan cukup pesat tahun 150 dan 190, namun sesudah tahun 250 pengaruh Marcion berkurang dan hilang dalam kekaisaran Romawi bagian Barat sedangkan bagian Timur bertahan sampai tahun 800 Masehi, khususnya di Siria, Asia Kecil dan di Persia.
Ajaran Marcion:
•Allah PL dan PB berbeda
•Dunia, materi, dan tubuh manusia adalah bagian yang terendah yang memperbudaki jiwa manusia.
•Yesus Kristus tidak diutus oleh Allah Pencipta yang disaksikan dalam Perjanjian Lama, tetapi oleh Allah Penyelamat untuk menyelamatkan dunia dan manusia dari tangan Allah khaliknya.

Montanisme
Montanisme didirikan tahun 156 di Frigia, Asia Kecil dan berkembang ke seluruh wilayah Romawi, dan pengaruh ini semakin berkurang dan menghilang pada tahun 500.
Montanus menekankan pentingnya nubuatan-nubuatan dan glossolalia, kedatangan Tuhan Yesus dengan segera, ekstase. Montanus menganggap dirinya Parakletos (Roh Kudus) yang dijanjikan Yesus dalam Yoh. 16:7 dan yang membawa penyataan Allah yang terakhir dan tertinggi. Montanus mengatakan, “Saya adalah Bapa yang berfirman, ……” atau Saya adalah Parakletos yang berfirman. Montanus juga mengatakan bahwa Kristus telah datang kepada dia dalam rupa seorang wanita dengan mengenakan pakaian yang bercahaya.
Untuk melawan pengajaran-pengajaran sesat ini maka Gereja memakai tiga senjata untuk malawannya.
•Kanon (PL dan PB: kanon PB selesai tahun 367 di bagian Timur Romawi sedangkan bagian Barat Romawi tahun 382)
•Pengakuan Iman (Macam-macam pengakuan iman: PIR, PIN, PIK dst)

2.1.4. Pandangan-Pandangan bapak-bapak Gereja

Sebenarnya banyak pandangan dari bapak-bapak Gereja yang dapat diketengahkan di sini, namun karena berbagai keterbatasan maka kami pilih tema-tema aktual yang pernah dipercakapkan oleh bapak-bapak Gereja. Yang kami maksudkan dengan aktual di sini yaitu pandangan bapak-bapak Gereja yang dipertimbangkan dari aspek asas manfaat bagi kita pada masa kini,

Harta milik dan penggunaannya.

Namun sebelum kita membahas pandangan bapak-bapak Gereja maka terlebih dahulu kita melihat data Perjanjian Baru tentang milik pribadi dan penggunaannya:
•Milik pribadi dan penggunaan kekayaan dalam pemberitaan Tuhan Yesus (Mat. 6:25-34; Luk. 12:22-32; 16:19-31; 4:16-20; 12:16-21; 9:3; 10:4; Mrk. 4:19 dll
•Milik pribadi dan penggunaannya dalam (Kis. 2:44, 45; 4:32; 5:1-11; 6:1-7, 9:36-42)
•Milik pribadi dan penggunaan kekayaan dalam surat-surat Rasul Paulus (1 Tes. 4:12; 5:14; 1 Tes. 3:7-10; 2 Kor. 8:13-15; Rm. 12:13; 2 Kor. 9:12; 1:29; 2 Kor. 5:10; 6:10; 9:5; Kol. 3:5; 1 Tim. 6:6-10, Flp. 3:19-20; 4:10-20)

Pandangan Bapak-bapak Gereja:

•Wahyu Hermas (abad II): ia menyamakan orang-orang kaya di jemaat Gereja mula-mula dengan batu-batu bundar yang tidak cocok untuk dipakai dalam pembangunan Gereja: “Bilamana kekayaan mereka yang merupakan sukacita hati mereka, dipotong dari mereka, baru mereka berguna untuk Allah, sama seperti batu-batu bundar yang harus dipotong dan dicocokkan supaya mereka menjadi berbentuk persegi empat dan dengan demikian berguna”.
•Yohanes Damaskenus (675-749): ia mengatakan, “kaya adalah dia yang menaruh belas kasihan kepada banyak orang dan yang memberikan dari apa yang ia punyai sebagai meniru belas kasihan Allah. Mengertilah, hai orang-orang kaya, bahwa seharusnya kamu melayani (dengan kekayaan), karena kamu menerima lebih banyak dari apa yang kamu butuhkan. Sadarilah dan belajarlah, hai orang-orang kaya, bahwa apa yang kamu punyai dalam kelimpahan merupakan sekaligus kekurangan orang-orang dan pengemis. Di sini milik pribadi tidak dapat dipisahkan dari segi tanggung jawab mempertahtikan orang dengan apa yang kita miliki
•Klemens dari Aleksandria (155-220): ia mengatakan, kita memiliki harta dan rumah hanya sebagai pemberian Allah. Tuhanlah yang memberikan semuanya itu, supaya kita memiliki harta, kita memakainya demi kepentingan orang-orang yang membutuhkannya. Kita mesti menyadari bahwa kita memiliki harta kaita ini bukan terutama karena dan untuk kita sendiri, melainkan karena dan untuk saudara-saudara kita yang berkekurangan.” Dengan demikian harta yang dihabiskan untuk kepentingan kita sendiri, membawa kita kepada dosa
•Cyprianus (wafat 258) dan Basilius (329-379): menurut mereka, segala harta dan kekayaan diberikan untuk menghapuskan kemiskinan dan untuk menghayati kasih Allah. Basilius menghimbau: “Bila masing-masing kita mengambil apa yang sungguh-sungguh kita butuhkan dan membiarkan selebihnya untuk saudara-saudara yang lain yang membutuhkannya, maka dimanakah orang kaya dan dimanakah orang miskin?

Pandangan Bapak-bapak Gereja tentang Dogma Gereja.
•Iraneus (140-195): tentang Yesus Kristus. Ia mempertahankan bahwa Kristus adalah Allah sepenuhnya.
•Tentang Kesatuan Tubuh dan Jiwa. Ia menyatakan: “Jiwa dan tubuh adalah satu dan tubuh ikut diselamatkan.
•Tentang Sakramen: Ia mengatakan “sakramen adalah ragi/obat kekekalan. Anugerah Allah disalurkan kepada kita terutama melalui sakramen
•Origenes (185-254). Menurutnya Kristus berpangkat lebih rendah daripada Allah Bapa
•Athanasius (328-373): Kristus adalah Allah sepenuhnya, dan tidak boleh dibedakan dengan Allah Bapa. Kalau Kristus bukan Allah maka bagaimana kita memperoleh kekekalan kelak? (Lih. Van den End, Harta dalamBejana, hlm. 68-69)
•Nestorius: tentang penekanan tabiat manusia Yesus (akan dibahas dalam pertikaian Kristologi)
•Cyrillus: tentang penekanan tabiat keilahaian Yesus Kristus (akan dibahas dalam pertikaian kristologi)
•Ambrosius: Hubungan Kaisar dan Gereja/Hubungan Gereja dan Negara. Menurutnya Kaisar dan pemerintah pada umumnya adalah prajurit Allah yang harus bertindak sesuai dengan kehendak Allah. Kalau mereka berdosa, walau dalam kebijakan politisnya sekalipun, mereka akan terkena hukuman disiplin Gereja sama seperti anggota jemaat lainnya.
2.1.5. Persoalan Pelembagaan/organisasi/tata Gereja

Setelah Gereja berkembang dalam dunia Hellenisme, Gereja mulai memperkembangkan bentuk organisasi (pengaruh lingkungan: pemerintah dan dalam tentara, di dalamnya dikenal hirarki: urutan pangkat). Mulai tahun 100 Masehi para penilik (episkopoi/uskup yang dibantu oleh diaken-diaken/diakonoi) yang dipilih dari penatua-penatua (presbuteroi) mulai menganggap pelayan-pelayan lainnya sebagai bawahannya. Mulai ditetapkan hirarki (urutan pangkat): Penilik-Penatua-Diaken. Dalam perubahan selanjutnya satu penilik/uskup untuk seluruh jemaat, misalnya di Antiokhia tahun 110 dan Roma tahun 150 dan tempat-tempat lainnya. Dengan demikian maka mulailah berlaku sistem pemerintahan Gereja episkopos yang sama untuk memutuskan sesuatu yang berhubungan dengan Gereja yang dipimpinnya). Namun jika muncul persoalan-persoalan yang beberapa jemaat serentak, maka hal itu diputuskan dengan sidang para uskup, atau sinode/konsili. Sistem ini memungkinkan semua uskup mempunyai kekuasaan atau kewenangan yang sama atau bersama-sama berkuasa dalam Gereja (sistem ini disebut episkopalisme) sekarang masih dimiliki oleh Gereja Ortodoks Timur (Rusia dan Eropa Tengah) dan Gereja Anglikan. Mula-mula Gereja di Eropa Barat memakai sistem episkopal juga. Akan tetapi di Roma, uskup Roma pada tahun 590 mendapat kekuasaan tertinggi dari uskup lainnya sehingga uskup Roma disebut Paus. Sejak itulah berlaku sistem kepausan.
Uskup-uskup yang terkenal waktu itu adalah uskup Antiokhia, Uskup Roma, Uskup Afrika dan uskup Yerusalem. Keempat uskup ini dalam persaingan mencari kekuasaan tertinggi, akhirnya uskup Roma yang disahkan menjadi Paus pertama. Gregor I Agung (590) Uskup Roma berusaha untuk mendapatkan kekuasaan tertinggi atas uskup-uskup lainnya dalam Gereja Katolik.
Dari gregor I (590) – Gregor VII (1050) Paus berusaha mencapai supremasi dalam persaingan dengan kaisar Romawi. Dari Gregor VII (1050) – Bonifacius VIII (1924) Paus mencapai puncak kekuasaan atas kaisar. Dari Bonifacius VIII (1294) – Marthin Luther (1517) Paus mengalami kemunduran pengaruh dan kekuasaan.
Penetapan lembaga Gereja penting karena kewenangan untuk menjatuhkan sanksi atas doktrin-doktrin yang salah harus diputuskan dalam sidang Gereja yang dipimpin oleh pemimpin Gereja. Pewarisan jabatan adalah senjata Gereja untuk menangkal ajaran-ajaran sesat. Tiga senjata Gereja yang dimaksud yaitu:
Kanon (PL dan PB) selesai tahun 367 di bagian Timur Romawi, sedangkan bagian Barat Romawi tahun 382)
Pengakuan Iman (Macam-macam pengakuan iman: PIR, PIN, PIK dst) (Dietrick Kuhl, Jilid I, 1992:98-102)
Pewarisan Jabatan (Perlunya jabatan dalam Gereja).

2.1.6. Pertikaian Teologis tentang Kristologi dan Pneumatologi

Sejak abad ke-2 telah mulai muncul pertikaian-pertikaian tentang Kristus. Pertikaian tersebut meliputi:

Tentang Trinitas
Apakah Yesus sederajat dengan Allah atau lebih rendah?
Dan bagaimana status Roh Kudus? Apakah Roh Kudus sederajat dengan Allah atau lebih rendah?

Tentang Kristologi
Apakah dan bagaimanakah Kristus betul-betul manusia?
(Pergumulan Kristologi Alexandria dan Antiokhia)

Timbulnya pertikaian teologis tentang kemanusiaan Kristus terjadi di Konstantinopel, khususnya diskusi tentang bagaimana hubungan antara kemanusiaan dan keilahian-Nya atau hubungan dua tabiat. Bagaimana mungkin Kristus, yang sepenuhnya ilahi dapat menjadi manusia sama seperti manusia biasa?
Bagaimana mungkin dalam manusia Yesus dari Nazaret orang berjumpa dengan Allah? Hal ini sulit dibayangkan oleh orang Yunani, sebab ada perbedaan besar dan hakiki antara Allah dan manusia.
Walaupun demikian, namun penekanan kemanusiaan Yesus bagi orang-orang Yunani penting karena:
1.Alasan Alkitabiah: yaitu Injil-injil menceritakan Yesus sebagai manusia
2.Alasan Teologis (alasan soteriologis/keselamatan), yaitu supaya manusia diselamatkan. Dan untuk keselamatan inilah maka kemanusiaan dan keilahian Yesus Kristus saling berkaitan erat.
Selanjutnya tentang Roh Kudus, pertanyaan yang muncul pada waktu itu dalam kelompok Kristen di Alexandria adalah apakah Roh Kudus dilihat sebagai ilahi penuh atau ciptaan tertinggi?
Pertikaian-pertikaian tersebut di atas diselesaikan dalam konsili-konsili Gereja.
Konsili yang dimaksud adalah:
1.Konsisli Nicea (thn 325): Perselisihan tentang Trinitas diselesaikan, ajaran atau dogma yang dirumuskan dalam konsili Nicea adalah dalam Allah ada tiga oknum (Bapa, Anak, Roh) yang mempunyai hakikat ilahi yang sama, atau Bapa, Anak dan Roh Kudus sehakikat (satu hakikat) atau satu keber-ada-an, tetapi tiga oknum (kepribadian). Singkatnya Bapa, Anak, Roh Kudus adalah satu dalam keber-ada-an (sama-sama kekal), tapi tiga dalam kepribadian. Dalam konsili ini paham Arius (Arianisme) ditolak (lebih jelas mahasiswa dapat mempelajari dalam MK Dogmatika)
2.Konsili Konstantinopel (thn 381): Tujuan utama dari konsili ini yaitu menjamin keilahian Roh Kudus (lihat pertanyaan di atas), yaitu Roh Kudus adalah Tuhan, menjadi sama ilahi dengan Allah dan Kristus. Dengan keputusan tentang keilahian Roh Kudus dalam konsili Konstantinopel maka selesailah dogma (ajaran) resmi tentang trinitas yang dimiliki Gereja sepanjang abad.
3.Konsili Efesus (thn. 431): Konsili ini berusaha menyelesaikan pertikaian antara Nestorius (mewakili corak teologi Gereja di Antiokhia) dan Cyrillus (mewakili corak teologi dari Gereja di Alecandria-Mesir). Dalam konsili ini Nestorius dan kelompoknya dinyatakan salah atau pengajaran Nestorius (penekanan pada kemanusiaan Yesus) ditolak.
4.Konsili Chalcedon (thn. 451). Konsili ini menyelesaikan pertikaian tentang Kristologi (dua tabiat Kristus: kemanusiaan dan keilahian-Nya), rumus Chalcedon tentang Kristologi, yakni: Yesus adalah Allah sejati dan manusia sejati (memiliki keilahian dan kemanusiaan).
5.Konsili Konstantinopel II (thn. 553). Dalam konsili ini ajaran Origenes: “Kristus setengah Allah” ditolak. Konsili ini meresmikan Maria sebagai Aeiparthenos yaitu perawan sepanjang umurnya.
6.Konsili Konstantinopel III (thn. 680). Konsili ini dilatar belakangi oleh serangan bangsa Arab Islam dan keinginan Kaisar Romawi untuk memperkuat dan mempertahankan Gereja. Oleh karena iu terjadi kompromi antara Gereja-gereja monofisit di Asia Barat di wilayah Romawi dan Gereja Katolik, namun para pemimpin Gereja menolaknya dengan alasan tidak mau membenarkan Gereja yang pernah ditolak (Gereja monofistisme/satu tabiat Kristus) di konsili Chalcedon.
7.Konsili Nicea II (thn. 787). Penyelesaian perdebatan tentang pemakaian gambar-gambar orang suci oleh orang-orang Kristen. Perselisihan ini disebut ‘iconoclastic Contaversy’ Yunani ‘cikon’ berarti gambar. Gambar yang dimaksud adalah gambar-gambar yang memperlihatkan wajah orang-orang suci dan saleh, wajah Tuhan Yesus dan bunda Maria.

2.1.6. Augustinus

Riwayat Hidup (sekilas)

•Lahir di Thageste, Afrika Utara thn. 354
•Ayahnya seorang kafir yang baru masuk Kristen sebelum meninggal thn. 372
•Ibunya yang bernama Monika, seorang percaya yang dengan tekun mendoakan anaknya, sehingga Ambrosius menyatakan, “Seorang anak yang begitu banyak didoakan dengan mencucurkan air mata, mustahil binasa”
•Augustinus mempelajari ilmu retorika (ilmu pidato, ilmu kefasihan berbicaara) di Kartago (thn. 371-375)
•Sejak tahun 372 (usia 17 tahun, masih sebagai mahasiswa di Kartago) ia hidup bersama seorang perempuan tanpa nikah sah (sampai tahun 385). Dari hubungan ini Augustinus mempunyai anak, namanya Adeodatus artinya yang diberikan oleh Allah
•Augustinus dan anaknya dibaptis pada tahun 387, namun kemudian anaknya meninggal pada usia muda
•Menjadi guru besar dalam ilmu pidato di Thagaste, Afrika Utara antara tahun 375-383
•Selanjutnya menjadi guru besar dalam bidang yang sama di Roma, ketika di sanalah dia bertobat (386)
•Riwayat pertobatan Augustinus: pada suatu saat ia menyendiri di kebun dan berseru kepada Tuhan: “berapa lama lagi, ya Tuhan? Berapa lama lagi Engkau marah? Jangan ingat akan dosa-dosa saya pada waktu masih muda. Berapa lama? Berapa lama? Besok? Mengapa tidak hari ini? Mengapa tidak sekarang? Mengapa tidak pada jam sekarang ini?, Engkau menghentikan kemalanganku? Dalam situasi ini Augustinus mendengar suara dari anak-anak yang bermain di sekitar dia: “Ambillah dan bacalah!” Ia tersentuh dan kemudian ke rumahnya dan mengambil Alkitab dan membaca Roma 13:13-14. Sejak saat itu Augustinus meyakini pengampunan dosa dan menyaksikan pertobatannya kepada teman-teman seprofesinya dan juga kepada ibunya.
•Augustinus pulang ke Kartago dan menjual warisannya dan membagi-bagikan kepada orang miskin
•Pada tahun 387 Augustinus dibaptis bersama putranya (lih. di atas)
•Augustinus mendirikan sebuah biara kecil di Thagaste dan belajar bersama teman-teman sepanggilan selama 5 tahun
•Kemudian ia pindah ke Hippo Regius (perkembangan seminari teologi yang menyelamatkan banyak imam dan penatua dan juga sedikit-dikitnya 10 uskup, dan selanjutya berkembang menjadi Ordo Augustin)
•Pada tahun 391 Augustinus dipilih menjadi imam dan memulai pelayanan sebagai imam tahun 392 (ini disebabkan karena ia ragu akan pilihan tersebut kemudian berdoa dan mendapat kepastian dari Tuhan dan memulai pelayanannya sebagai imam dari hari Paskah tahun 392)
•Tahun 395 Augustinus diangkat menjadi uskup di Hippo Regius sampai wafat tahun 430
•Sering kali ia berkhotbah sebanyak 5x seminggu, sering dua kali sehari
•Augustinus memiliki beban pelayanan untuk orang-orang miskin
•Dalam rapat sinode di Hippo Regius tahun 395 dan di Kartago 397, Augustinus turut berperan dalam penyelesaian penentuan Kanon Perjanjian Baru
•Augustinus dalamdalam pelayanannya berusaha melawan ajaran sesat khususnya Pelagianisme.

Perlawanan Augustinus terhadap Pelagianisme (pegikut ajaran Pelagius)

Perlawanan terhadap Pelagianisme tentang masalah dosa turunan dan kehendak bebas manusia:
•Inti ajaran Pelagius (seorang rahib dari Inggris yang tinggal di Roma), Pelagius mengajarkan tentang kehendak bebas manusia yang membawanya pada kesimpulan: hidup tanpa dosa bisa saja dicapai oleh manusia. Pelagius juga tidak mengakui dosa warisan atau dosa turunan (pengaruh dosa Adam)
•Keselamatan adalah kerjasama (sinergi) antara Allah dan manusia
•Augustinus melawan ajaran para pengikut Pelagius dengan menyatakan, “Semua generasi manusia secara prinsipil terlibat dan dirusakkan tabiatnya oleh kejatuhan Adam (dosa warisan/dosa turunan). Kejatuhan Adam dalam dosa adalah kerusakan tabiat dan martabat manusia secara total, khususnya dalam hubungan dengan Allah” (oleh J. Calvin disebut kerusakan total/total depravity). “Manusia tidak mungkin hidup tanpa dosa karena sejak Adam jatuh ke dalam dosa maka generasi selanjutnya tercemar dengan dosa, sehingga manusia tidak mempunyai kemampuan untuk berbuat sesuatu yang dikehendaki Tuhan, karena kehendak bebasnya digunakan untuk melayani keinginan dosa. Manusia harus ditolong oleh Tuhan. Manusia tidak mungkin mencari Allah karena dosa, tetapi Allah yang mencarinya.”
•Keselamatan menurut Augustinus: manusia diselamatkan hanya oleh anugerah Allah bukan berdasarkan perbuatan baik manusia atau kerjasama manusia dengan Allah.

Ajaran dua Polis/Dua Kerajaan (De Civitate Dei):

Ajaran Augustinus tentang dua kerajaan dapat kami paparkan menurut tulisan Th. Van den End dalam bukunya “Harta dalam Bejana” dan Yan Raphar dalam bukunya “Filsafat Politik Augustinus”. Kedua tulisan itu kami kemukakan sebagai berikut:
Dalam Harta dalam Bejana, Th. Van den End, menyatakan, “dalam karya De Civitate Dei, Augustinus mengemukakan pandangan baru mengenai “Kerajaan Seribu Tahun” (Why. 20): kebanyakan orang Kristen pada zaman Gereja Lama mengharap kerajaan itu akan terwujud dalam bentuk yang nyata di bumi ini.
Aurustinus menafsirkan Wahyu 20 dengan cara lain: Kerajaan Kristus itu sudah mulai pada saat Ia bangkit dari antara orang mati dan pada saat lahirnya Gereja Kristen
Orang-orang yang duduk di tahta (Why. 20:4), menurut Augustinus adalah uskup-uskup yang mempunyai kuasa untuk mengikat dan melepaskan (Mat. 18:18).
Menurut Yan Raphar, De Civitate Dei merupakan karya Augustinus yang sangat terkenal. Karya ini diselesaikan Augustinus selama 15 Tahun (ditulis tahun 412, selesai thn. 427). Buku ini terdiri atas 22 jilid. Komentar para ahli tentang isi buku De Civitate Dei, yaitu buku ini berisi bidang: 1) Filsafat Agama dan Teologi, 2) Etika, 3) Filsafat Sejarah, 4) Teori Waktu dan Proses Sejarah dan 5) Filsafat Politik = Teori Teokrasi yang rasional.
De Civitate Dei berisi berbagai bidang seperti paparan di atas bermaksud untuk menolong orang-orang Kristen tentang isi keyakinan (iman Kristen) yang sedang diserang oleh orang-orang kafir dalam kekaisaran Romawi. Ringkasan isi 22 jilid dari “De Civitate Dei” dapat dibaca dalam Filsafat Politik Augustinus oleh Pdt. Dr. Yan Raphar atau dapat dilihat dalam diktat Sejarah Gereja Umum I oleh Yonas Muanley.
Dalam buku ini dikemukakan tentang kerajaan Allah yang diwujudkan dalam Gereja dan kerajaan Diabolos/kerajaan Setan yang diwujudkan dalam pemerintahan duniawi (arti kedua ini jangan dipahami dalam pemerintahan sekarang, tetapi dalam konteks kekaisaran Romawi pada waktu itu yang begitu bengis terhadap Gereja).
Ikhtisar dari De Civitate Dei kami paparkan sebagai berikut (hanya 4 jilid, yang lain dibaca dalam sumber yang kami sebutkan di atas):
Jilid I:Augustinus memberi jawab terhadap serangan orang-orang kafir di Roma yang mengatakan bahwa bencana yang dialami oleh kekaisaran Romawi disebabkan oleh agama Kristen. Augustinus menjawabnya dengan menjelaskan bahwa kebahagiaan atau kemalangan, berkat atau kesulitan hidup adalah hal-hal yang biasa dialami oleh semua orang tanpa memandang bulu. Bukan hanya orang jahat, melainkan orang baik pun sering mengalami suka duka kehidupan itu. Jadi bencana yang terjadi di kekaisaran Romawi itu bersifat umum dan universal.
Jilid 2:Bencana yang menimpa kekaisaran Romawi itu bukan baru dialami pada masa itu melainkan telah sering dan biasa dialami oleh Negara Romawi sejak zaman sebelum Tuhan Yesus.
Jilid 3:Dewa-dewa yang dipercaya oleh orang-orang Roma tidak dapat menolong orang Roma dari bencana tersebut.
Jilid 4:Augustinus menyakan, kejayaan Roma bukan karena perlindungan dan pemeliharaan dewa-dewa yang disembah oleh orang kafir, tetapi dilindungi dan dipelihara oleh Allah yang Mahaesa dan Mahabesar, yang juga mengaruniakan kebahagiaan kepada siapa yangdiperkenankan-Nya dan kelak akan menghakimi kerajaan-kerajaan duniawi.
Jadi apa yang dikatakan oleh Yan Raphar mendukung pada apa yang dikatakan oleh Th. Van den End, yaitu isi “De Civitate Dei” adalah hasil tafsiran Augustinus terhadap Wahyu 20.

BAB 3
SEJARAH GEREJA ABAD PERTENGAHAN/ABAD KEGELAPAN (590-1492/1500)

3.1.Awal Sistem Kepausan dalam Gereja

Gereja pasca rasul dipimpin oleh para uskup. Uskup-uskup yang terkenal pada konteks Gereja mula-mula, khususnya abad ke-2 sampai akhir abad ke-6 (590).
Dengan kata lain masa pasca rasuli Gereja dipimpin dengan sistem pemerintahan episkopos (uskup-uskup). Sejak abad ke-4 dan ke-5 para Uskup Metropolitan di Antiokhia, Alexandria, Konstantinopel, Yerusalem dan Roma disebut patriarkh (pater berarti bapa, ayah). Uskup Roma dianggap Patriarkh untuk seluruh bagian Barat dari kekaisaran Romawi. Dan sejak Sinode di Sardika tahun 343 menuntut kepemimpinan tertinggi bagi Uskup di Roma, yang nantinya didukung oleh beberapa Bapa-bapa gereja seperti Augustinus, maka sejak tahun 590 mulailah sistem Paus. Selanjutnya Paus berkedudukan di Roma. Paus I adalah Gregor I Agung (590).

3.2.Gereja Abad Pertengahan
1.Pendahuluan
Setelah Kaisar Theodosius Agung meninggal, sekitar tahun 400, kekaisaran Romawi dibagi menjadi dua, yaitu Romawi Barat berpusat di Roma dan Romawi Timur berpusat di Konstantinopel
Kekaisaran Romawi Barat runtuh tahun 476 karena dihancurkan oleh suku bangsa German
Suku bangsa Frank menduduki Perancis, Suku bangsa Angelsaksis Inggris, dan seterusnya
Bangsa-bangsa ini mendirikan negara-negara baru, yangkemudian hari disebut: Perancis, Inggris, Jerman dan negeri-negeri Skandinavia
Di Eropa Timur, bangsa-bangsa Slav juga mendirikan beberapa negara: Rusia, Polandia dan seterusnya
Jadi, secara asasi pada zaman itulah lahir negara-negara Eropa yang masih ada sampai sekarang.

2.Penginjilan di Eropa
Mayoritas bangsa-bangsa German dan Slav menganut agama-agama Suku (Politeis)
Wilayah Perancis dan Inggris, yang sudah masuk Kristen sewaktu masih merupakan provinsi-provinsi kekaisaran Romawi, sebagian harus dikristenkan kembali
Di Rusia dan Eropa Utara dan Tengah, sama sekali belum ada usaha pekabaran Injil
Sekitar tahun 1000, hampir seluruh Eropa sudah masuk Kristen
Pada masa itu juga, Paus-paus berhasil menjadi penguasa duniawi di suatu daerah di Italia Tengah, yang biasa disebut Negara Gereja. Ibu kota Negara itu Roma
Negara-negara itu berdiri terus sampai tahun 1870, ketika dicaplok Kerajaan Italia
Tetapi sebagaian kecil Kota Roma di sekitar Gereja Santo Pertus tetap merupakan Negara berdaulat (Kota Vatikan), lengkap dengan aparat diplomatiknya (seperti di Indonesia di Jln. …) Kepala Negara ialah Paus
Perancis dikristenkan kembali sekitar tahun 500 M
Inggris dengan bangsa Anglo-Sakson, dikristenkan sekitar tahun 600 M
Sekitar tahun 1000 M, Eropa Timur dikristenkan oleh utusan-utusan dari Konstantinopel menjadi Gereja Ortodoks Timur.

3.Sikap dan cita-cita Gereja Barat Menghadapi Dunia
Sikap Gereja terhadap dunia sekitar: ada dua, yaitu:
a.Gereja bersikap/menguasai dunia atau menjadi lembaga pembimbing dan pengatur dunia (hidup kenegaraan dan kemasyarakatan.
b.Pada pihak lain, banyak orang Kristen yang menarik diri dari dunia.
Cita-cita Gereja Abad Pertengahan, yaitu untuk menjadi lembaga yangmembimbing dan mengatur dunia. Hal ini menyebabkan pergumulan yang hebat antara Gereja dan dunia, yakni negara dan masyarakat.
Mula-mula Gereja dikuasai oleh Negara (500-1000)
Kemudian Gereja melepaskan diri dari negara (1000-1150), seterusnya Gereja berusaha berdiri sendiri menjadi pembimbing dan pengatur negara (1200-1300). Akhirnya kekuasaan Gereja merosot lagi
Sementara Paus berusaha menguasai dunia, ada pula orang-orang Kristen yang menarik diri dari tengah-tengah dunia, dengan manggalkan segala kekuasaan dan kekayaan duniawi. Orang-orang itu akan dibahas dalam sub judul Gerakan Kerohanian Orang Kristen Eropa abad Pertengahan.

4.Gerakan Kerohanian Orang Kristen Eropa abad Pertengahan.
Ketika Paus berusaha menghimpun kekayaan (menguasai dunia) maka ada orang-orang dari kelompok orang-orang kaya meninggalkan kekayaan mereka dan mencari suasana rohani. Orang-orang yang dimaksud, seperti:
Petrus Waldes (1175): Berasal dari Perancis, ia adalah orang kaya (saudara yang kaya). Ketika bercakap-cakap dengan temannya, temannya mati seketika. Hal ini membuat Waldes amat kaget. Apa gunanya memupuk kekayaan, kalau sewaktu-waktu maut bisa mencabut nyawa seseorang? Beberapa waktu kemudian ia mendengar ada penyanyi keliling memaw cerita tentang seorang muda yang memberikan seluruh hartanya kepada orang miskin, lalu pergi mengemis ke rumah orangtuanya tanpa dikenalai orangtuanya. Itulah petunjuk bagi Waldes. Kemudian Waldes membagi kekayaannya kepada orang miskin, kecuali sebagian yang dipakai untuk membiayai penerjemahan Injil ke dalam bahasa daerahnya. Lalu ia berkhotbah di mana-mana: Hai saudara-saudara ikutilah teladan Kristus.
Franciscus dari Assisi (1182-1226): Ia mendirikan ordo saudara-saudara Hina (Latinnya: Ordo Fratrum Minorum, OFM, biasanya disebut Ordo Franciscan)
•Fransiscus adalah anak seorang saudagar kaya. Pada waktu ia bertemu dengan seorang pengemis, Franciscus memberikan seluruh pakaian yang ada padanya. Dan pada waktu bertemu dengan orang berpenyakit kusta, ia pun terdorong untuk memeluk orang kusta tersebut. Namun karena Franciscus memboroskan harta orangtuanya untuk orang-orang miskin maka ia ditolak oleh ayahnya sebagai ahli waris. Kemudian Franciscus pergi ke luar kota dan memperbaiki gedung Gereja yang sedang runtuh. Ia membangun Gereja dengan jalan minta-minta.
•Franciscus mempunyai semangat cinta kasih yang besar kepada Kristus, tetai juga cinta kasih kepada seluruh makhluk. Ia pernah berkhotbah kepada burung-burung, yang mendengarkannya dengan berdiam diri. Suatu hari ia mendamaikan penduduk salah satu kota dengan seekor serigala yang ganas, yang biasanya menyerang kawanan domba-domba kota itu.
•Pernah Franciscus mau menyiksa tubuhnya dengan menghempaskan diri ke semak-semak duri, selaku latihan askese, akan tetapi semak duri itu mengisut, tidak melukai dia.
•Pada waktu hidupnya tubuhnya ditandai dengan ‘stigma’, yaitu bekas luka-luka pada tangan dan kaki Kristus yang disalibkan itu tampak juga pada kaki dan tangan Franciscus.
Dominikus, seorang Spanyol. Terharu juga oleh kemiskinan orang, lebih-lebih kemiskinan rohani dari mereka yang dibujuk bidat.
•Dominikus mau menjadi miskin supaya orang-orang yang seperti kaum Waldens, melawan kekayaan uskup-uskup, lebih percaya kepada pemberitaannya.
•Dominikus mendirikan sebuah Ordo, yaitu Ordo Pengkhotbah-pengkhotbah (Latinnya: Ordo Predicatorum, OP) atau Ordo Dominikan.

Teologi dan Kepercayaan Abad Pertengahan

Teologi Abad Pertengahan (590-1500)
•Teologi Skolastik: penyelarasan ajaran Gereja dengan filsafat Yunani. Karangan-karangan dari Filsuf Yunani, seperti: Plato dan Aristoteles.
•Tokoh terkemuka dari Teologi Skolastik adalah Thomas dari Aquino (1225-1274)
•Pola pemikiran Thomas Aquino dapat dilihat dalam cara ia membahas hubungan antara rahmat Allah dan kemampuan manusia untuk berbuat baik
•Teologi Skolastik dari Thomas Aquino ini paling digemari oleh Gereja Katolik Roma, yang berimplikasi pada penekanan perbuatan baik untuk memperoleh keselamatan pada abad pertengahan
•Perayaan sakramen Misa (Ekaristi) merupakan ibadah yang sebenarnya: khotbah, pemberitaan Firman Tuhan bersifat pendahuluan untuk misa
•Dikenal 7 sakramen pada abad pertengahan dan tetap dipertahankan dalam Gereja Katolik Roma sampai kini. 7 Sakramen itu: (1) Baptisan, (2) Konfirmasi (peneguhan), (3) Pengakuan dosa, (4) Misa (Ekaristi), (5) Peminyakan (minyak suci) atas orang sakit yang akan meninggal, (6) Nikah, (7) Penahbisan Iman

Kepercayaan Abad Pertengahan

•Gereja Abad Pertengahan sesuai dengan ajaran Gereja, meyakini bahwa Allah adalah ‘Hakim Yang Adil’ yang mengadili manusia sesuai dengan perbuatannya
•Allah (Yesus Kristus) diyakini terlalu tinggi untuk dapat dijangkau oleh kaum awam oleh karena itu Gereja sebagai perantara, khususnya santo
•Kepercayaan akan api penyucian atau Purgatori
•Santo sebagai perantara karena Allah terlampau tinggi sehingga harus ada perantara, khususnya Maria
•Sehubungan dengan kepercayaan terhadap santo itu, maka beragam peninggalan orang suci itu menjadi benda pemujaan, misalnya tulang, rambut, pakaian dll.

Cara Percaya yang Lain di Akhir Abad pertengahan

•Bernhard dari Clairvaux: mencari Tuhan dengan jalan mistik (kebatinan)
•Wyclif dan Hus: mencari Tuhan dengan jalan mendengarkan Firman-Nya dan mengkritik teologi dan kepercayaan yang resmi dengan bertolak dari firman itu (mereka ini adalah perintis-perintis Reformasi)
•Kaum Humanis (Erasmus): mencari Tuhan dengan cara kembali kepada suasana Gereja Lama, dan kritiknya terhadap teologi dan kepercayaan yang resmi bertolak dari suasana itu (kaum humanis). Salah satu semboyan kaum humanis adalah: kembalilah kepada sumber-sumbermu. Mereka berusaha melihata kitab suci bukan dari terjemahan Vulgata (Terjemahan Alkitab dalam bahasa Latin) tetapi langsung melihat teks kitab suci dalam bahasa asli yaitu Ibrani dan Yunani.
•Jadi Kaum Humanis memberi kontribusi dalam penelitian kebenaran berdasarkan sumber asli (teks asli) bukan dari terjemahan-terjemahan. Sebab terjemahan-terjemahan bisa salah.

Perang Salib (1050-1450)

Sebab-sebab perang salib yaitu karena Islam telah menguasai daerah imperium Kristen yang siarah ke Yerusalem. Selain itu dalam pemerintahan 4 Khalifah Islam mereka telah berhasil menaklukkan daerah Maroko samapai Afganistan, pasukan Islam juga sudah memasuki daerah Spanyol (akan dibahas dalam SGA).
Yang disinggung di sini adalah perang salib yang terjadi di Spanyol.
Faktor penyebab perang salib di Spanyol adalah perang pembebasan, agama bukan faktor utama di dalamnya. Kemudian orang Eropa mulai berusaha membebaskan tanah suci (Yerusalem) yang telah dikuasai oleh tentara Islam (di sini/perang salib di Palestina, faktor agama menjadi aspek dominan). Walaupun demikian para ahli mengatakan perang salib di Palestina bukanlah perang antara umat Kristen dan umat Islam, melainkan perang aantara ‘Peranggi dan Turki”. Di dalamnya bercampur faktor agama dan faktor lain.
Singkatnya perang salib membawa dampak yang buruk antara hubungan Islam dan Kritsten di kemudian hari.

Perang-perang Salib (1096-1291)

Sekitar pertengahan abad XI terjadilah anarkhi dan kekacauan di Konstantinopel. Kaisar demi kaisar dibunuh, keadaan tentara Romawi Timur diabaikan. Tentara-tentara Turki, yang telah mengambil kekuasaan dalam khalifah Arab, memanfaatkan kesempatan ini dan memasuki Asia Kecil. Pada tahun 1071 tentara Turki menghancurkan Kekaisaran Romawi di Armenia, lalu merebut seluruh dareah Romawi di Asia, seperti Asia Kecil (Turki), Suriah, Palestina dan Yerusalem. Akibat dari perang ini, orang-orang (Kristen) Eropa yang bersiarah ke Yerusalem amat diganggu, bahkan dibunuh. Hal ini disebabkan karena sikap bangsa Turki-Seljuk Islam yang keras memusuhi agama Kristen, sehingga jemaat Kristen yang bersiarah ke Yerusalam (kota suci) diganggu.
Akibat keadaan ini, Kaisar di Konstantinopel meminta pertolongan dari Negara-negara di Eropa Barat untuk melawan tentara-tentara Turki-Seljuk yang beragama Islam yang mulai atau baru mendirikan suatu kerajaan besar dekat Konstantinopel, sehingga Konstantinopel merasa terancam.
Kaisar Alexius Comnenus mengaitkan dua alasan di atas dan mengajak Paus Urbanus II untuk bersama-sama merebut kembali Palestina dan kota suci lainnya dari kekuasaan bangsa Turki-Seljuk yang beragama Islam.
Paus Urbanus II merespons permintaan Kaisar Alexius, kemudian baerpidato secara baersemangat untuk mengobarkan semangat umat Kristen untuk merebut Tanah Suci (Yerusalem) dari orang-orang Islam. Selanjutnya Paus Urbanus II menjanjikan pengampunan dosa, pembebasan dari segala hukum gerejawi, dan pengurangan di Pugatori (Api Penyucian: dukungan ayatnya dari II Makabe 12:39-45; Mat. 12:31; 1 Kor. 3:11-15).
Seruan dari Paus Urbanus II mempengaruhi 150.000 orang Kristen dan mereka berkumpul di Konstantinopel. Mereka semuanya mengenakan tanda salib merah pada pakaian mereka.
Perang salib dapat dibagi dalam beberapa tahap:
a)Perang Salib I (1096-1099): Pasukan ini berhasil merebut daerah-daerah seperti: Nicea (ibu kota kerajaan Turki-Seljuk di Asia Kecil) pada tahun 1097, merebut daerah Edessa pada tahun 1097, merebut Kota Antiokhia pada tahun 1098 dan Kota Yerusalem pada tanggal 15 Juli 1099. Pasukan tentara Salib membunuh ribuan orang Islam dan orang Yahudi. Tindakan yang keji darai tentara Salib menggoncangkan dunia Islam (menghasilkan dampak negatif bagi hubungan Islam dan Kristen di kemudian hari). Kekuasaan tentara Salib atas daerah-daerah ini tidak berlangsung lama, hanya setengah abad tentara Salib menguasai daerah-daerah yang direbutnya dalam perang salib, selanjutnya mereka dikalahkan oleh tentara Islam.
b)Perang Salib II (1147-1149): Perang Salib ini digalang oleh Bernhard dari Clairvaux (1090-1153), dan dipimpin oleh kaisar Konrad III dan Raja Ludwig VII dari Perancis. Namun gerakan inipun tidak berhasil. Sebaliknya reaksi-reaksi melawan dan mengutuk perang-perang salib muncul di Eropa.
c)Perang Salib III (1189-1192): Kedudukan kerajaan-kerajaan Kristen di Timur Tengah bertambah sulit setelah Sultan Saladin bertahta di Mesir dan bertekad untuk mengembalikan kekuasaan Islam atas wilayah-wilayah yang dikuasai dalam perang Salib I. Pada tahun 1187 daerah Tiberias dan Yerusalem ingin ditaklukkan kembali oleh Raja Perancis namun tidak banyak daerah berhasil dikuasai.
Sultan Saladin menyetujui bahwa semua orang Kristen boleh masuk ke Yerusalem (kota Suci) tanpa gangguan. Tentara Salib tidak berhasil merebut kembali Kota Yerusalem. Tentara Salib hanya merebut kota Siprus dari kekuasaan kekaisan Byzantium (Konstantinopel). Perebutan ini bersifat peperangan antara Kristen dengan Kristen.
d)Perang Salib IV (1202-1204): Dilakukan atas anjuran Paus Innocentius III. Perang Salib ini hanya menghasilkan penghancuran Konstantinopel oleh tentara Salib. Mereka membunuh ribuan penduduk, menghancurkan sebagian kota, mencemarkan gereja-gereja Ortodox Timur, memperkosa.
e)Perang Salib Anak-anak (1212): Ribuan anak-anak berkumpul di Marseilles (Perancis Selatan). Anak-anak ini tidak berhasil mencapai Tanah Suci (Yerusalem). Ribuan yang meninggal, ribuan lagi dijual sebagai budak-budak di Afrika Utara.
f)Masih ada beberapa tahap perang salib yang tidak dikemukakan di sini, selanjutnya dapat dibaca dalam Dietrick Kuhl, Sejarah Gereja Jilid II, halaman 27-28.
g)Akibat Perang Salib:
1)Kedua kelompok (Kristen dan Islam) mengalami penderitaan.
2)Kegoncongan rohani dalam kalangan Kristen. Islam dan Muhammad dianggap unggul dan menang. Berkembanglah sikap skeptisisme. Ada orang Kristen yang pindah agama dan menjadi Muslim. Menghasilkan keacuhan rohani, sikap anti Gereja, penolakan kepausan dan Gereja Katolik Roma yang mempromosikan Perang Salib, dan mempercepat berkembangnya sekularisme.
3)Karena kritik dan penolakan terhadap Perang Salib maka muncul kerinduan untuk menginjili orang-orang Muslim, seperti yang dikatakan oleh seorang rahib Dominikan, Wilhelm dari Tripolis: “Dan dengan cara itulah, yaitu dengan pemberitaan Injil saja, tanpa bukti-bukti filsafat dan tanpa kekerasan senjata, mereka akan mencari baptisan Kristus dan akan masuk kawanan domba Allah”, Ia berhasil membaptis 1000 orang Muslim.
4)Terjadi relasi yang baru antara Islam dan Kristen yaitu sikap fanatisme (sikap ini kadang memunculkan ketidakharmonisan dalam dua komunitas Abrahamik) (Kuhl, Jilid II: 1997:29-31).

PUSTAKA-PUSTAKA

Dr. Th. Van den End, Harta da lam Bejana. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1999
Dr. H. Berkhof dan I. H. Enklaar, Sejarah Gereja. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2004
Dr. C. de Jonge, Pembimbing ke dalam Sejarah Gereja. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1996
Dr. Chr. De Jonge, Gereja Memberi Jawab. BPK Gunung Mulia, Jakarta 1996
G. Van Schie, Rangkuman Sejarah Gereja Kristiani dalam konteks Sejarah Agama-agama Lain, Obor, Jakarta, 1994
Dr. Dietrich Kuhl, Sejarah Gereja, Gereja Mula-mula di dalam Lingkungan Kebudayaan Yunani-Romawi (30-500). Yayasan Pekabaran Injil Indonesia Departemen Literatur, Batu Malang, 1992
Dr. Dietrich Kuhl, Gereja Katolik Roma-Sejarah Gereja Jilid II, Gereja Katolik di dalam Lingkungan dan Kebudayaan Eropa Barat Pada Abad Pertengahan (500-1500). Yayasan Pekabaran Injil Indonesia Departemen Literatur, 1997
Pdt. Dr. F. D. Felem, Kamus Sejarah Gereja. BPK Gunung Mulia, Jakarta
Pdt. Dr. F. D. Felem, Riwayat Singkat Tokoh-tokoh Sejarah Gereja. BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2003
M. A. Ihromi dan S. Wismoady Wahono (Penyusun), Theodoran-Pemberian Allah, Kumpulan karangan dalam rangka menghormati usia 75 tahun Prof. Dr. Theodor Mueller-Krueger. BPK Gunung Agung, Jakarta 1979
Pdt. Dr. Peter Wongso, Seri Diktat Sejarah Gereja. Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 1992
John Culver, Diktat Sejarah Gereja. Institut Alkitab Tiranus, Bandung, 1991
Pdt. Yonas Muanley, M.Th. Asia Rumah Tinggal Tuhan di Bumi (Menapak karya Tuhan dalam diri Gereja mula-mula ke arah Barat dan Timur Berdasarkan Kisah Para Rasul dan Catatan Historis Para Ahli Sejarah Gereja. Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar, Jakarta, 2006
Pdt. Yonas Muanley, S. Th. Diktat Sejarah Gereja Umum I (Gereja Mula-mula sampai Gereja Abad Pertengahan). Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar, Jakarta, 2005